Senin, 31 Januari 2011

TUGAS POKOK PENYULUH AGAMA ISLAM FUNGSIONAL

1. Mengumpulkan data identifikasi potensi wilayah /kelompok sasaran
Kegiatannya menghimpun atau mengumpulkan data oleh penyuluh agama dengan menggunakan instrument pengumpulan data, formulir-formulir, blanko-blanko isian dan daftar pertanyaan yang berisi semua bahan berupa data/informasi tentang data potensi wilayah/kelompok yang berkaitan dengan data pembinaan kehidupan beragama dan pembangunan yang ada dalam suatu wilayah atau kelompok sasaran.
Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 6 kali atau setiap 2 bulan sekali data tersebut diperbaiki. Volume 6 kali per tahun apabila seorang penyuluh ditugaskan berdasarkan berdasarkan wilayah binaan, tetapi bila seorang penyuluh ditugaskan berdasarkan kelompok binaan maka volume pengumpulan data didasarkan atas jumlah kelompok binaan.
Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah formulir-formulir, blanko-blanko yang telah di isi atau daftar-daftar pertanyaan yang telah dijawab oleh responden yang dihimpun dalam satu paket.
2. Menyusun rencana kerja operasional
Point kegiatan ini adalah menyusun Term of Reference (TOR) yang bersifat penjabaran setiap kegiatan yang tertuang dalam rencana kerja (program kerja) tahunan sehingga tergambar secara jelas tujuan, sasaran, waktu, pelaksanaan dan pokok-pokok materi serta teknis pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan agama dan pembangunan yang akan dilakukan untuk suatu kelompok sasaran/binaan yang ada.
Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 12 kali/ setiap bulan sekali. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah asli/ foto copy naskah rencana kerja operasional sejumlah yang dibuat.
3. Mengumpulkan bahan materi bimbingan dan penyuluhan
Adalah kegiatan menghimpun dan mempelajari bahan-bahan bimbingan atau penyuluhan dari kitab suci, hadits, buku keagaman dan kebijakan pemerintah untuk melengkapi penyusunan materi.
Kegiatan dilakukan minimal 1 tahun 18 kali. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah adalah resume atau kompilasi pokok-pokok materi dan sumber-sumber materi
4. Menyusun konsep tertulis materi BP dalam bentuk naskah
Kegiatan ini terdiri dari penyusunan materi tertulis yang akan dipergunakan untuk bahan pelaksanaan bimbingan/ penyuluhan dengan topic, sistematika tertentu dan dibuat dalam bentuk naskah ketikan 1,5 spasi dengan jumlah halaman minimal 10 halaman kertas folio.
Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 48 kali atau setiap bulan 4 naskah. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah asli / foto copy sejumlah naskah materi yang telah dibuat.
5. Menyusun konsep materi BP dalam bentuk poster
Adalah kegiatan penyusunan materi dituangkan dalam poster atau spanduk berdasarkan desain materi dan bahan yang berhasil dihimpun.
Kegiatan ini tidak mengikat, artinya boleh dilakukan dan boleh juga tidak dilakukan.Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah naskah konsep materi.

6. Melaksanakan BP melalui tatap muka kepada masyarakat pedesaan
Adalah kegiatan pelaksanaan bimbingan/ penyuluhan yang dialakukan dalam suatu pertemuan saling berhadapan antara penyuluh agama dengan kelompok binaan/ kelompok sasaran masyarakat umum yang berada di pedesaan.
Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 208 kali / 4 kali seminggu. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah bukti bahwa yang bersangkutan telah melakukan kegiatan bimbingan penyuluhan, bukti fisiknya dapat berupa surat keterangan dari penyelenggara atau dafatar kehadiran penyuluh yang dibuat secara keseluruhan selama 1 bulan atau 1 tahun dengan mencantumkan bulan, hari, tanggal, dan jam pelaksanaan bimbingan penyuluhan.
7. Melaksanakan BP melalui pentas pertunjukan sebagai pemain.
Adalah kegiatan pelaksanaan bimbingan/ penyuluhan yang dialakukan secara lisan ataupun dengan gerakan yang dilakukan dalam suatu pertunjukan di mana seorang penyuluh agama bertindak sebagai salah satu pemain/ pemegang peran.
Kegiatan ini sifatnya tidak mengikat, artinya boleh dilakukan boleh tidak. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah surat keterangan dari penyelenggara pertunjukan atau sutradara yang bertanggungjawab atas pentas pertunjukan tersebut.
8. Menyusun laporan mingguan pelaksanaan BP
Adalah kegiatan penyusunan dan pembuatan laporan pelaksanaan kegiatan bimbingan atau penyuluhan yang dilakukan secara tatap muka, yang meliputi antara lain, lokasi pelaksanaan, tema, jumlah peserta, peralatan yang digunakan, masalah yang ada, dan lain-lain yang dilaksanakan setiap minggu sekali.
Kegiatan ini dilakukan minimal setiap tahun 52 kali atau setiap minggu 1 laporan. Apabila mempunyai 5 kelompok binaan tetap dan setiap kelompok binaan dilaksanakan 1 minggu sekali maka jumlah laporan mingguannya menjadi 5 laporan, sehingga dalam 1 tahun menjadi 5 x 4 x 12 = 240 laporan mingguan.
Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah setiap laporan mingguan yang dibuat.
9. Melaksanakan konsultasi secara perorangan
Adalah kegiatan pemberian infoprmasi, penjelasan, jalan keluar pemecahan terhadap suatu persoalan yang dihadapi oleh perorangan yang secara tegas memohon bantuan kepada penyuluh agama. Materi konsultasi berkaitan dengan keagamaan. Konsultasi bisa dilakukan di tempat manapun dan tidak menjadi keharusan bertempat di kantor.
Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 12 kali atau setiap bulan 1 kali. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah formulir permohonan konsultasi yang ditandatangani oleh pemohon
10. Melaksanakan konsultasi secara kelompok
Adalah kegiatan pemberian informasi, penjelasan dan jalan keluar yang dilakukan penyuluh agama terhadap kelompok masyarakat yang secara tegas meminta jasa konsultasi dalam rangka memecahkan suatu persoalan di bidang keagamaan atau pembangunan melalui bahasa agama.
Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 12 kali. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah bukti fisik bahan yang dijadikan sebagai dasaar penilaian adalah formulir permohonan konsultasi yang ditandatangani oleh pimpinan kelompok.

11. Menyusun laporan hasil konsultasi perorangan/ kelompok
Adalah kegiatan penyusunan dan pembuatan laporan pelaksanaan kegiatan bimbingan penyuluhan melalui proses konsultasi, meliputi : jumlah sasaran/jumlah peserta, frekuensi, masalah yang dipecahkan, langkah pemecahan yang disampaikan serta hasilnya.
Kegiatan dilakukan sesuai dengan ada tidaknya pelaksanaan konsultasi. Bentuk bukti fisik yang dinilai adalah laporan yang dibuat perminggunya.

Minggu, 26 Desember 2010

Pembinaan Keagamaan dan Pengaruhnya Terhadap Tingkah Laku Remaja

Pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, terdiri dari dua unsure jasmani dan rokhani, keduanya saling mempunyai kebutuhan yang harus terpenuhi dengan seimbang, karena pemeliharaan dan perhatian keduanya secara baik, maka akan menjadikan manusia hidup yang sempurna, bahagia, tenang dan tentram.
Dengan demikian akan menjadikan dirinya bertingkah laku baik terhadap orang lain. Dengan munculnya ilmu pengetahuan yang semakin pesat dan dapat menelorkan tehnologi canggih, terjadilah manusia cenderung mengejar kebutuhan materi yang dipentingkan sampai lupa pada kebutuhan rohani, dengan beranggapan bahwa materilah yang dapat menyelesaikan segala-galanya, namun kenyataan yang demikian justru menjadikan timbulnya dekadensi moral sehingga apa yang terjadi kebahagiaan semakin jauh, beban jiwa semakin berat, hidup semakin sulit, ketegangan serta kegelisahan semakin melabuhinya semuanya itu merupakan kenyataan penyakit jiwa yang merusak kehidupan itu sendiri. Sebagai penawar obatnya untuk mengembalikan rasa percaya diri dari segala kesalahan, maka agama Islamlah yang dapat menjadi penolongnya, yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan bertambah iman dan bertakwa yang sebenar-benarnya, yakni menjalankan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.
Menurut Zakiyah Daradjat, agama Islam adalah obat penawar yang sejuk yang akan memadamkan nyala yang bergejlak dalam hati (1986:373)
Adapun untuk menanamkan agama serta keimanan seseorang itu harus melalui beberapa tahap, sebagaimana menurut D.Marimba,yaitu:
1). Tahap Pembiasaan
2). Tahap Pembentukan Pengertian, Sikap dan Minat
3). Tahap Pembentukan Kerohanian yang Suci dan Luhur
1. Tahap Pembiasaan
   Pembiasaan ini dimaksudkan untuk membentuk aspek jasmani daripada mental seseorang, atau memberi kecakapan untuk berbuat dan mengucapkan sesuatu, sehingga dengan adanya pembiasaan-pembiasaan ajaran agama Islam seperti membiasakan shalat, puasa, membantu dan sebagainya, diharapkan agar mempunyai kemudahan-kemudahan untuk bertindak atau berbuat yang baik.
1.      Tahap Pembentukan Pengertian, Sikap dn Mental
Setelah terbiasa untuk melakukan sesuatu yang baik menurut ajaran Islam, maka akan lebih mantapnya kalau disampaikan mengenai tentang pengertian dan pengetahuan amalan-amalan yang dilakukan dan biasa diucapkan. Hal ini menjadi sasarannya adalah kejiwaan (pola piker, sikap dan minat) atau menurut istilah adalah karsa, rasa dan cipta. Dalam hal ini perlu kita mempergunakan tenaga-tenaga kejiwaan karsa, rasa dan cipta.
2.      Tahap Pembentukan Kerohanian yang Luhur
Tahap tarap ketiga merupakan yang sangat petning, karena dengan penanaman rohani yang luhur akan menimbulkan kesadaran atau rasa tanggung jawab yang tinggi. Dalam tahap ini yang berperan aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan.
Menurut Ahmad D.Marimba adalah tenaga budi yang menjadi alat utama dan tenaga kejiwaan sebagai tambahan. Pkiran dengan disinari oleh tenaga dan tenaga kejiwaan mendapatkan pengenalan akan Allah. (1986:77)
Dengan penjelasan diatas dapat diambil pengertian bahwa budi yang sudah tertanam rasa kepercayaan (keimanan) yang kuat dan mantap kejiwaan akan selalu terkontrol dengan baik, misalnya jika kejiwaan akan berbuat tidak baik maka budi yang sudah tertanam dengan keimanan akan selalu mengingatkannya sehingga akan timbullah perbuatan-perbuatan yang baik sesuai dengan ajaran Islam.
Pengaruh pembinaan keagamaan yang dilakukan oleh Majlis Talim sebagai intisari pendidikan non formal sebagaimana penulis paparkan tersebut diatas, bahwa ini ajaran Islam hanya meliputi aqidah, syari`ah dan akhlak, kesemuanya itu bagi yang mempelajarinya akan terbentuklah pola tingkah laku yang Islami. Menurut AR.Sutan Mansur bahwa keimanan itu merupakan sumber akhlak disamping merupakan sumber berfikir. (1978:12). Dalam bukunya Tauhid Membentuk Pribadi Muslim. Lebih lanjut Khamdani Khalifah menjelaskan sebagai berikut: bahwa iman merupakan sesuatu kekuatan yang memberikan corak kepada jiwa dan perbuatan yang sesuai dengan iman hanyalah suatu refleksinya kedalam tindakan dimana iman menjadi sumber inspirasi berbuat baik (Membina Kepribadian Masyarakat Melalui Pengamalan Agama,1984:25)
Oleh karena itu penanaman aqidah kedalan jiwa manusia merupakan prioritas yang pertama ditanamkan oleh para Rasul dalam berda`wah karena aqidah merupakan dasar agama.
Uraian tersebut diatas menjelaskan bahwa iman atau aqidah adalah yang paling penting yang dapat mempengaruhi terhadap kehidupan manusia. Dengan demikian meskipun keimanan dan aqidah sangat petning bukan berarti harus meninggalkan yang lain, tetapi baik akhlak maupun syariah juga mempunyai  peranan yang saling menyempurnakan. Sehingga bertitik tolak dari uraian-uraian tersebut diatas, pada hakekatnya (kenyataannya) perubahan tingkah laku dapat diwarnai setelah mengetahui atau mengenal dekat dengan ilmu-ilmu agama, realisasinya tercermin dalam bentuk pola fakir, wicara dan pola tingkah laku.

Keluarga Sebagai Dasar Pembentukan Akhlak Anak

Lingkungan keluarga merupakan institusi dalam masyarakat yang pertama-tama dilibatkan dalam masalah pendidikan, ini merupakan hal wajar karena seorang anak pertama-tama akan mendapatkan dirinya dalam keluarga dan akan berinteraksi serta berkomunikasi dalam keluarga pula, sehingga dalam keluarga inilah diletakkan dasar-dasar tingkah laku dan budi pekerti anak didik yaitu pada usia tahun-tahun pertama.
Pada usia ini anak lebih peka terhadap sesuatu yang ada disekelilingnya, artinya anak akan lebih cepat menangkap serta meniru tingkah laku yang mereka lihat dalam lingkungan yang paling dekat denganya tanpa tahu apakah hal yang ditirunya baik atau buruk. Dsinilah peran pendidikan orang tua untuk dapat mengarahkan, mendidik dan memberikan contoh yang baik, sesuai dengan akhlak dalam ajaran Islam.
Zakiah Daradjat (1996:110) memberikan penjelasan:
Sikap orang tua terhadap ajaran Islam akan memantul kepada anak-anaknya jika orang tua menghormati dan mentaati agama, maka akan tumbuh pada pribadi anak sikap menghargai dan mentaati agama. Demikian pula sebaliknya jika sikap orang tua terhadap ajaran agama itu negativ, acuh tak acuh maka sikap itu pula yang akan tumbuh dan berkembang dalam pribadi dan jiwa anaknya.

Berkaitan dengan keluarga yang merupakan institusi pertama dan utama dalam rangka mendidik anak-anak, maka sejak kecil sebelum menginjak usia sekolah harus ditanamkan pendidikan akhlak, sebab anak pada saat itu dalam keadaan yang masihBerkaitan dengan keluarga yang merupakan institusi pertama dan utama dalam rangka mendidik anak-anak, maka sejak kecil sebelum menginjak usia sekolah harus ditanamkan pendidikan akhlak, sebab anak pada saat itu dalam keadaan yang masi bersih dan suci serta mudah untuk dipengaruhi, ia ibarat kertas puih bersih belum ada coretan noda sedikit pun.
Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh Abdullah Nasih Ulwan (1999:171) menyampaikan :
Anak adalah bagi kedua orang tuanya. Dan hatinya yang suci dan adalah permata yang mahal. Apabila ia diajar dan dibiaasakan pada kebaikan, maka ia akan tumbuh pada kebaikan itu dan akan mendapatkan kebahagiaan didunia dan diakhirat. Tetapi bila ia dibiasakan untuk berbuat kejahatan dan dibiarkan seperti binatang-binatang, maka ia akan sengsara dan binasa. Cara memelihara anak yang baik adalah dengan mendidik dan mengajarkan akhlak mulia kepadanya

Sementara itu Ibnu Jauzi mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Athiyah al abrasyi (1993:106) bahwa pembentukan yang utama ialah diwaktu kecil, maka apabila anak dibairkan melakukan sesuatu (yang kurang baik) dan kemudian telah menjadi kebiasanya maka akan sukarlah meluruskannya. Artinya bahwa pendidikan budi pekerti (akhlak) yang tertinggi wajib dimulai dari rumah dalam keluarga sejak waktu kecil.
Dalam hal ini dapat dipahami bahwa orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam keluarga terutama pada tahun-tahun pertama usia anak-anak karena pendidikan yang telah diberikan orang tuanya pada usia tersebut akan membekas dalam dirinya untuk jangka waktu yang panjang dan sekaligus memberikan landasan bagi tingkah laku budi pekerti dimasa yang akan datang.

Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Dini

Pada dasarnya setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka keluarga dalam hal ini orang tua yang pertama akan memberi warna terhadap anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi :
عَنْ اَبِى هُرَيْ رَةً قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مَوْلُودٍ اِلا يُولَدُ عَلَي اْلفِطْرِ , فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ. ( رواه مسلم )

Artinya : “ Dari Abu Hurairah ra. berkata Rasulullah SAW, Bersabda Tiada seorang anakpun yang lahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (berakidah yang benar). Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani dan musyrik. (HR. Muslim)

Hadits ini jelaslah mengandung pengertian bahwa orang tua mempunyai peranan yang sangat penting, terutama dalam keberhasilan anak. Masa anak-anak adalah cermin kehidupan masa dewasa, oleh karena itu perlu adanya perhatian, salah satunya perhatian orang tua yaitu memperhatikan kewajiban pendidikan dengan menanamkan dasar-dasar fitrah keimanan serta akidah yang kuat. Keluarga merupakan pusat pendidikan yang paling berpengaruh dibandingkan yang lain, karena seorang anak masuk Islam sejak awal kehidupannya dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan. Disini keluarga merupakan salah satu lingkungan pendidikan yang penting bagi perkembangan anak-anak serta yang pertama dikenal anak dalam hidupnya.
Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Menurut ajaran Islam anak adalah amanah Allah kepada kedua orang tua. Setiap amanah haruslah dijaga dan dipelihara sebab setiap orang tua mempunyai naluri cinta dan kasih kepada anak-anaknya.
Allah berfirman dalam surat at Tahrim ayat 6 :
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Berdasarkan ayat diatas maka orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik dan menjaga keluarganya dari segala hal yang dapat merusak moral serta hal yang tidak baik lainnya., dengan cara menanamkan pendidikan sejak dini kepada anak-anaknya agar tidak celaka nantinya.

Peranan Ibu Dalam Mendidik Anak


1.      Membina Pribadi Anak
Setiap orang tua membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan ahlak terpuji. Orang tua adalah Pembina yang pertama dalam hidup anak.”Kepribadaian orang tua, sikap dan cara hirup mereka merupakan unsure-unsur pendidikan yang tidak langsung dengan sendirinya akan masuk kedalam pribadi anak yang sedang tumbuh..” (Prof. Dr.Zakiah Daradjat, 1970: 56)
Pendidikan prinbadi sesungguhnya tidak lain adalah untuk menjadikan manusia sebagai manusia yang sebenarnya jadi artinya bahwa manusia itu pada hakekatnya belum sampai pada tarafnya sendiri, ia belum menempati tempatnya. Untuk itu diperlukan pembinaan atau pendidikan dengan maksud meningkatkan manusia untuk dibawa ketempat yang sewajarnya.
Pada masa anak-anak, dimana sianak boleh dikatakan belum mempunyai kemauan baik selain naluri, dia didik dengan menggugah kemauannya melalui contoh dan latihan-latihan. Dengan cara ini dimaksudkan agar anak lalu memiliki kemauan baiknya sendiri bila sudah dewasa, dan selanjutnya tinggal memperkembangkanya.
Keberhasilan seseorang dalam membina pribadi anak, apabila berangkat dari keluarga yang harmonis dan agamis sebab hubungan antara kedua orang tua sangat mempengaruhi pertumbuhan jiwa anak. “Hubungan yang serasi penuh pengertian dan kasih sayang, akan membawa kepada pertumbuhan pribadi yang sukar dan tidak mudah dibentuk karena ia tidak mendapatkan suasana yang baik untuk berkembang sebab selalu terganggu oleh suasana orang tua.”
Didalam melakukan pembinaan pribadi hendaknya anak-anak dibiasakan untuk melakukan latihan-latihan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang baik sedini mungkin. Hal ini dikarenakan untuk dapat menjadi anak yang berkepribadian utuh, dituntut kemampuan diri untuk menjadikannya iman dan agama sebagai faktor “integrative pada dirinya” sehingga dapat menghindarkan diri dari berbagai tantangan, gangguan dan ancaman serta cobaan hidup kehidupan.
Jadi membina pribadi artinya : membangun iman seutuhnya dengan asas keseimbangan antara pembangunan fisik materiil dan psikis religius.

2.      Membina Ahlakul Karimah
Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan ibadat, bahwa iman dan ibadat manusia tidak sempurna kecuali timbul dari situasi akhlak yang mulia dan muamalah yang terbaik terhadap Allah dan ,akhluknya”. (Prof. Dr. Hasan Langgulung:372)
a.       Hubungan dengan Allah SWT
Hubungan dengan Allah SWT yang bentuknya seperti tercantum dalam Al-qur`an (S. Adz Dzariyaat:56)
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya:  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (S.Adz dzariyaat:56)

b.      Hubungan dengan manusia
Hubungan dengan manusia yang bentuknya tolong menolong

(r$yès?ur n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? n?tã ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߃Ïx© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ
Artinya : ”Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Almaidah ayat:2).


c.       Hubungan dengan alam sekitarnya
Hubungan dengan alam sekitar atau dengan makhluk lain

uqèd Nä.r't±Rr& z`ÏiB ÇÚöF{$# óOä.tyJ÷ètGó$#ur $pkŽÏù çnrãÏÿøótFó$$sù ¢OèO (#þqç/qè? Ïmøs9Î) 4 ¨bÎ) În1u Ò=ƒÌs% Ò=ÅgC ÇÏÊÈ
Artinya :” Dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (S. Huud :61)

                        Berkenaan dengan persoalan pokok dalam bidang akhlak yang mesti dibina secara baik dan sempurna dalam diri seorang maka penting dan perlunya bagi tiap-tiap orang untuk mempelajari, mengkaji dan mengamalkan mutiara-mutiara yang terdapat dalam akhlakul karimah agar mutu kepribadian manusiawi dapat terangkat ketingkat yang tinggi dan mulia baik menurut pandangan dan penilaian Allah maupun oleh sesame manusia.

                  Islam memberikan daftar-daftar yang jelas mengenai perincian-perincian akhlak yang dianggap mulia dan menyeluruh pengikutnya satu demi satu dengan jelas untuk berpegang teguh dan berdiri diatas landasan itu manakala akan berbuat sesuatu.
                  Antara moral yang baik dan boleh dikerjakan serta mana yang buruk dan dilarang diberi penjelasan yang terang menurut Al-Taumy bahwa “ajaran-ajaran dan teks agama Islam menguatkan bahwa agama-agama dari risalah-risalah samawiyah semuanya tidak datang  kecuali untuk memperbaiki akhlak”. Jadi yang baru dalam Al-Qur`an dan sunah nabi adalah menyempurnakan tidak berbuat segala keutamaan telah baru sebab banyak keutamaan telah dikenali dan diterima sebelum Islam, tetapi bercerai-berai bertentangan satu sama lain dan bersifat kurang.

3.      Pembiasaan Pengamalan Keagamaan
Untuk membina anak agar mempunyai sifat-sifat, tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja akan tetapi perlu pembiasaan atau membiasakan untuk melakukan yang baik yang diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat-sifat itu dan menjauhi sifat yang tercela. Kebiasaan itulah yang membuat dia cenderung kepada kelakuan yang baik dan meninggalkan yang kurang baik.
Dengan kata lain dapat kita sebutkan, bahwa pembiasaan dalam pendidikan anak sangat penting, terutama dalam pembentukan pribadi, akhlak dan agama pada umumnya. Karena pembiasaan-pembiasaan agama itu akan memasukan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.
Semakin banyak agama yang didapatnya melalui atau dengan cara pembiasaan itu, akan semakin banyaklah unsur agama dalam pribadinya semakin mudahlah ia memahami ajaran agama yang akan dijelaskan kepadanya. Seperti telah diektahui bahwa unsur-unsur TK belum memungkinkan untuk berfikir logis dan belum dapat memahami hal-hal yang abstrak, maka apapun yang dikatakan kepadanya akan diterima saja.
Hendaknya orang tua atau guru menyadari bahwa dalam pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan-latihan yang cocok dan sesuai dengan perkembangan jiwanya. Karena menurut Prof.Dr. Zakiyah Daradjat,” bahwa pembiasaan dalam latihan itu akan membentuk sikap tertentu pada anak yang lambat laun tergoyahkan lagi karena telah terjadi bagian pribadinya”.
Latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti sholat, do`a membaca al qur`an harus dibiasakan sejak kecil sehingga lama kelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah tersebut. Anak dibiasakan sedemikian rupa sehingga dengan sendirinya ia akan mendorong untuk melakukannya tanpa suruhan dari luar, tapi dorongan dari dalam. Ingat prinsip agama Islam tidak adanya paksaan, tetapi ada keharusan pendidikan yang dibebankan kepada orang tua, guru atau siswa.
Latihan keagamaan yang menyangkut akhlak dan ibadah sosial sesuai dengan ajaran agama jauh lebih penting dan penjelasan dengan kata-kata. Latihan-latihan, dan pembiasaan-pembiasaan disini dilakukan melalui contoh yang diberikan oleh orang tua. Dalam melakukan latihan dan pembiasaan itu haruslah sudah direncanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.